Puisi (34) tiap hentakan ditahan
Apa setiap saat hatinya terluka..
Hanya karena satu mulut manusia?
Apa tiap kali ia dicaci, ia tutup dengan gelak tawa?
Sungguh, ku tak begitu mengenalnya, tetapi ada setitik rasa
Yang tiap getaran pita suara manusia
Membuat ku menahan rasa malu tak ingin tahu
Tolong manusia, camkan. Ia adalah duka.
Dari sekian ribu peristiwa
Walau kini tak peduli
Hati masih punya rasa
Yang bahkan kau sendiri manusia seperti tak tercipta
Hentakan kakimu ditanah ini
Sepertinya tidak diperlukan lagi
Pergi sajalah
Kau si penebar yang maha tidak pernah salah
Selamat malam jumat
Happy reading
Sambil minum kopi sepertinya enak juga.
Hanya karena satu mulut manusia?
Apa tiap kali ia dicaci, ia tutup dengan gelak tawa?
Sungguh, ku tak begitu mengenalnya, tetapi ada setitik rasa
Yang tiap getaran pita suara manusia
Membuat ku menahan rasa malu tak ingin tahu
Tolong manusia, camkan. Ia adalah duka.
Dari sekian ribu peristiwa
Walau kini tak peduli
Hati masih punya rasa
Yang bahkan kau sendiri manusia seperti tak tercipta
Hentakan kakimu ditanah ini
Sepertinya tidak diperlukan lagi
Pergi sajalah
Kau si penebar yang maha tidak pernah salah
Selamat malam jumat
Happy reading
Sambil minum kopi sepertinya enak juga.
Komentar
Posting Komentar