Puisi (27) percakapan palsu
Tidak usah bercakap.
Ia mendengar gelak tawa yang terperangkap.
Jangan berbasa basi.
Kebisingan itu tidak berdiri sendiri.
Rindu sesak.
Merasa ia rapuh untuk sesaat.
Jangan ragu menangis, karena itu tanda dirimu hebat.
Jujur, dibola mata itu..penuh basah.
Ia mati, kutu. Penuh amarah.
Rasa rasa luka
Tidak hangus dalam lautan dahaga.
Jangan bicara kepalsuan itu lagi.
Untuk apa berbaik hati, dengan tersenyum penuh kepedihan abadi.
Semakin terpendam.
Semakin kesumat rindu yang mendalam.
Bisa jika harus bungkam?
Jangan ambil mawar yang sedang mekar, itu nampak rekah, lihat yang satu, itu berkaca kaca, dengan jejak darah yang mengelilingi durinya.
Huwek.
Happy sat-night inspiration by someone--"
Thankyouuu❤
Ia mendengar gelak tawa yang terperangkap.
Jangan berbasa basi.
Kebisingan itu tidak berdiri sendiri.
Rindu sesak.
Merasa ia rapuh untuk sesaat.
Jangan ragu menangis, karena itu tanda dirimu hebat.
Jujur, dibola mata itu..penuh basah.
Ia mati, kutu. Penuh amarah.
Rasa rasa luka
Tidak hangus dalam lautan dahaga.
Jangan bicara kepalsuan itu lagi.
Untuk apa berbaik hati, dengan tersenyum penuh kepedihan abadi.
Semakin terpendam.
Semakin kesumat rindu yang mendalam.
Bisa jika harus bungkam?
Jangan ambil mawar yang sedang mekar, itu nampak rekah, lihat yang satu, itu berkaca kaca, dengan jejak darah yang mengelilingi durinya.
Huwek.
Happy sat-night inspiration by someone--"
Thankyouuu❤
Komentar
Posting Komentar