Puisi (19) dalam

Mata nya tak berkedip. Saat langit memberikan warna gelapnya.

Beradu bersama kenangan malang.
Walau ia berfikir, ia akan segera pulang.

Senyuman yang menawan. Memberikan sedikit gurcikan aman, bersama alam hijau yang menyinar dengan tentram.

Ia selalu menjawab.
Gurutan hati yang kian merasa menangis sendiri.

Melambai lambai sepucuk kesejukan di dalam hujan. Yang menemaninya dalam kesunyian.

Bersama senja ia menjawab.
Bahwa ia tak akan baik baik saja.

Tak tahu berhenti sampai kapan.
Ia harus berdiri melawan.

Ia sudah rapuh. Hancur bersama bayang bayang. Yang tidak akan hilang.






Rasa hati yang mati, bisa hilang jika di hianati.
Begitu pula rasa benci yang tak akan pernah timbul jika kita tidak mencintai. 

Komentar

Postingan Populer