Puisi (16) saat perpisahan
Terkadang. Rasa hanya bisa terdiam.
Tanpa bisa menjawab segalanya.
Terkadang. Rindu hanya bisa berkata.
Tanpa harus kita lalui banyak cara.
Semuanya bahkan kian rumit, dan sedikit bicara.
Saat perlahan lahan rasa bersembunyi di balik tetesan air mata.
Katanya. Jangan salahkan hati. Salahkan saja perpisahan.
Namun, siapa yang bisa menggantungkan hidupnya tanpa perpisahan.
Yang semakin hari. Semakin membuat semuanya penasaran.
Ia tak bercakap. Ia bahkan tak bersenandung.
Ia hanya diam. Takut salah berjalan.
Oleh karena itu. Ia resah.
Mengapa rasa harus bersahabat dengan rindu. Bahkan ketika benci tak sadar bahwa ia telah dibohongi.
Yashh I'm back. Setelah sekian abad hibernasi.
Btw. Gue mau ujian bentar lg. Jd kalo lagi ada otak aja update nya. So HAPPY READING KAWAN KAWAN
Tanpa bisa menjawab segalanya.
Terkadang. Rindu hanya bisa berkata.
Tanpa harus kita lalui banyak cara.
Semuanya bahkan kian rumit, dan sedikit bicara.
Saat perlahan lahan rasa bersembunyi di balik tetesan air mata.
Katanya. Jangan salahkan hati. Salahkan saja perpisahan.
Namun, siapa yang bisa menggantungkan hidupnya tanpa perpisahan.
Yang semakin hari. Semakin membuat semuanya penasaran.
Ia tak bercakap. Ia bahkan tak bersenandung.
Ia hanya diam. Takut salah berjalan.
Oleh karena itu. Ia resah.
Mengapa rasa harus bersahabat dengan rindu. Bahkan ketika benci tak sadar bahwa ia telah dibohongi.
Yashh I'm back. Setelah sekian abad hibernasi.
Btw. Gue mau ujian bentar lg. Jd kalo lagi ada otak aja update nya. So HAPPY READING KAWAN KAWAN
Komentar
Posting Komentar