Puisi (9) for the jingga
Langit terlihat bergemuruh
Memandang sedikit alam dengan kumuh
Jika sabda tak lagi bernada
Pergilah saja tanpa fana
Jika jingga sudah tak lagi lesap
Maka kesetiaan akan tetap senyap
Jika pagi sudah meratap
Biar saja ia menatap
Jika saja waktu telah menyudahi
Maka sampai kapanpun mentari takan kembali
Dan jika sudah saat nya pergi
Mungkin matahari akan menyadari.
Tak ada detik jam yang bisa biacara.
Yang ada hanyalah rintikan air yang terus mengalir tanpa jeda.
Tak ada yang membiarkan bumi melukai pelanginya.
Bila saja ia Rasa, itu telah menjala.
UPDATE LAGII.
SO. GUE BINGUNG BGT BIKIN PUISI APA. NAH JADI DI OTAK GUE ADA SESUATU. YUDAH DEH ITU AJA.
THANK YOU HAPPY READING:)
Memandang sedikit alam dengan kumuh
Jika sabda tak lagi bernada
Pergilah saja tanpa fana
Jika jingga sudah tak lagi lesap
Maka kesetiaan akan tetap senyap
Jika pagi sudah meratap
Biar saja ia menatap
Jika saja waktu telah menyudahi
Maka sampai kapanpun mentari takan kembali
Dan jika sudah saat nya pergi
Mungkin matahari akan menyadari.
Tak ada detik jam yang bisa biacara.
Yang ada hanyalah rintikan air yang terus mengalir tanpa jeda.
Tak ada yang membiarkan bumi melukai pelanginya.
Bila saja ia Rasa, itu telah menjala.
UPDATE LAGII.
SO. GUE BINGUNG BGT BIKIN PUISI APA. NAH JADI DI OTAK GUE ADA SESUATU. YUDAH DEH ITU AJA.
THANK YOU HAPPY READING:)
Komentar
Posting Komentar